Pria Meninggalkan Pasar Kerja, Ekonomi Global Berubah

Table of Contents

Ilustrasi angkatan kerja pria
Ilustrasi angkatan kerja pria

TEGAROOM - Era di mana laki-laki menjadi tulang punggung tunggal ekonomi global tampaknya perlahan meninggalkan panggung sejarah. Data terkini menunjukkan sebuah perubahan fundamental: partisipasi pria dalam angkatan kerja, terutama di negara-negara maju, telah jatuh ke titik terendah yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak pencatatan dimulai pada 1948. Di saat yang bersamaan, lanskap ekonomi global tengah menyaksikan dinamika gender yang berubah drastis. Artikel ini akan mengupas tuntas fenomena penurunan partisipasi tenaga kerja pria, faktor-faktor struktural di baliknya, serta bagaimana transformasi ini mengubah wajah ekonomi dunia.

Penurunan Bersejarah yang Tak Terbendung

Sejak akhir Perang Dunia II, tingkat partisipasi angkatan kerja pria di Amerika Serikat telah mengalami kemerosotan yang konsisten. Jika pada tahun 1948 lebih dari 86 persen pria usia 15 tahun ke atas terlibat aktif dalam pasar tenaga kerja, angka tersebut kini telah merosot drastis. Data dari CEIC menunjukkan bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja pria untuk semua kelompok usia di AS turun dari puncak 86,6 persen pada 1948 menjadi 67,8 persen pada 2025, sebuah penurunan hampir 19 poin persentase. Angka ini bahkan lebih rendah jika dibandingkan dengan puncak historis yang pernah dicapai. Sumber lain mencatat bahwa hanya 68 persen pria di AS yang berpartisipasi dalam angkatan kerja pada tahun 2024, turun drastis dari puncak 86,6 persen pada 1949.

Penurunan ini tidak hanya terjadi pada kelompok usia lanjut. Pada kelompok usia produktif utama, yaitu pria berusia 25 hingga 54 tahun yang secara tradisional menjadi tulang punggung perekonomian, tingkat partisipasi juga menunjukkan tren penurunan yang signifikan. Data dari International Labour Organization yang dikompilasi CEIC mengungkapkan bahwa partisipasi pria dalam kelompok usia ini mencapai puncaknya pada 97,4 persen di tahun 1955, namun perlahan menyusut menjadi 89,4 persen di tahun 2025. Ini bukanlah sebuah fluktuasi siklus bisnis biasa, melainkan perubahan struktural jangka panjang yang telah berlangsung selama lebih dari tujuh dekade.

Fenomena serupa terjadi di berbagai negara maju lainnya. Laporan IMF mengkonfirmasi bahwa di hampir semua negara maju, partisipasi pria dalam angkatan kerja telah menurun, sementara partisipasi perempuan justru cenderung meningkat. Globalisasi dan perubahan struktural dalam perekonomian telah menciptakan gelombang transformasi yang tidak dapat dihindari oleh pasar tenaga kerja pria di negara-negara kaya.

Mengapa Pria Muda dan Lansia Meninggalkan Dunia Kerja

Salah satu karakteristik paling mencolok dari tren ini adalah dampaknya yang tidak merata antar kelompok usia. Dua kelompok yang paling terdampak adalah pria usia muda dan pria lansia, yang masing-masing memiliki dinamika dan faktor pendorong yang berbeda.

Pria Muda: Terjebak antara Pendidikan dan Pengangguran

Generasi muda pria di negara maju menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam transisi mereka dari dunia pendidikan ke pasar kerja. Fenomena NEET (Not in Education, Employment, or Training) atau kelompok yang tidak dalam pendidikan, pekerjaan, maupun pelatihan, semakin meluas. Di Inggris, misalnya, jumlah anak muda yang termasuk dalam kategori NEET kini mendekati satu juta orang, angka tertinggi dalam lebih dari satu dekade. Tingkat NEET di kalangan usia 18 hingga 24 tahun di Inggris meningkat dari 13 persen pada 2019 menjadi 15 persen pada 2025, mencerminkan memburuknya kondisi partisipasi pemuda dalam pendidikan dan pasar kerja.

Fenomena ini bukan hanya masalah Inggris. Secara global, tingkat partisipasi pria muda telah turun secara signifikan lebih besar dibandingkan rata-rata global, menunjukkan bahwa mereka menghadapi hambatan yang lebih besar dalam mengintegrasikan diri ke pasar tenaga kerja. Laporan dari ILO mengonfirmasi bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja pria muda global telah turun dengan laju yang mengkhawatirkan. Penyebabnya kompleks dan saling terkait: perubahan cepat dalam struktur industri yang mengurangi permintaan akan tenaga kerja tidak terampil dan semi-terampil, peningkatan partisipasi dalam pendidikan tinggi yang memperpanjang masa transisi, serta meningkatnya prevalensi masalah kesehatan mental di kalangan generasi muda yang menghambat partisipasi kerja.

Pria Lansia: Pensiun Dini dan Perubahan Preferensi

Di sisi lain spektrum usia, pria lansia juga menunjukkan pola penurunan partisipasi yang signifikan. Data historis menunjukkan bahwa tingkat partisipasi pria berusia 65 tahun ke atas di AS mencapai puncaknya pada 47 persen di tahun 1949, namun kemudian merosot drastis hingga menyentuh titik terendah 15,6 persen pada 1993. Meskipun sempat mengalami sedikit pemulihan, angka ini masih berada di 23,1 persen pada tahun 2025, jauh di bawah level puncaknya.

Penurunan ini didorong oleh kombinasi faktor: sistem pensiun dan jaminan sosial yang lebih baik di negara maju yang memungkinkan pria untuk pensiun lebih awal, peningkatan harapan hidup yang justru mengubah persepsi tentang masa pensiun, serta perubahan preferensi pribadi di mana banyak pria memilih untuk menikmati masa tua daripada terus bekerja. Di banyak negara Eropa, seperti Belgia, Prancis, Hungaria, dan Luksemburg, kurang dari setengah pria di atas usia tertentu masih tetap bekerja, mencerminkan keberhasilan sistem kesejahteraan sosial namun juga tantangan bagi keberlanjutan ekonomi jangka panjang.

Revolusi Industri dan Era Otomatisasi sebagai Katalis Perubahan

Di balik perubahan demografis dan preferensi pribadi, terdapat kekuatan ekonomi struktural yang lebih dalam yang mendorong pria keluar dari pasar kerja. Deindustrialisasi yang berlangsung sejak akhir abad ke-20, dipercepat oleh otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI), telah secara fundamental mengubah lanskap pekerjaan yang selama ini didominasi pria.

Sektor manufaktur, yang secara tradisional menjadi penyedia lapangan kerja utama bagi pria dengan tingkat pendidikan menengah ke bawah, telah mengalami kontraksi besar-besaran di negara maju. Pabrik-pabrik ditutup atau dipindahkan ke negara dengan biaya tenaga kerja lebih murah, sementara revolusi industri 4.0 membawa otomatisasi dan robotika yang menggantikan pekerjaan-pekerjaan rutin dan repetitif yang sebelumnya menjadi andalan pekerja pria.

Teknologi kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi telah mengubah secara fundamental cara kerja di berbagai sektor industri. Di sektor manufaktur, penggunaan robot industri dan sistem predictive maintenance meningkatkan produktivitas secara dramatis, tetapi juga secara signifikan mengurangi permintaan akan tenaga kerja semi-terampil. Di sektor ritel modern, otomatisasi kasir dan sistem inventori cerdas mengurangi kebutuhan tenaga kerja kasir dan staf gudang, pekerjaan yang banyak diisi oleh pria dengan latar belakang pendidikan terbatas.

Laporan IMF tahun 2018 mengakui bahwa kemajuan teknologi seperti otomatisasi, meskipun bermanfaat bagi perekonomian secara keseluruhan, telah memberikan tekanan moderat pada tingkat partisipasi tenaga kerja pria. Yang lebih mengkhawatirkan, perubahan ini terjadi sangat cepat dan berpotensi besar menggeser tenaga kerja manusia, khususnya di sektor tekstil dan manufaktur yang selama ini menjadi tulang punggung pekerjaan pria.

Pandemi COVID-19 semakin memperparah kondisi ini. Guncangan ekonomi yang disebabkan pandemi mempercepat adopsi teknologi otomatisasi dan digitalisasi di berbagai sektor, sekaligus mendorong banyak pekerja pria, terutama mereka yang sudah mendekati usia pensiun, untuk meninggalkan pasar kerja lebih awal. Data menunjukkan bahwa tingkat partisipasi pria di AS sempat menyentuh titik terendah sepanjang masa di tahun 2021, sebelum pulih sebagian tetapi masih jauh di bawah level pra-pandemi.

Transformasi Dinamika Gender dalam Ekonomi Global

Penurunan partisipasi pria dalam angkatan kerja telah menciptakan dampak yang kompleks dan seringkali kontradiktif terhadap dinamika gender dalam ekonomi global.

Menyempitnya Kesenjangan Partisipasi

Dalam tiga dekade terakhir, kesenjangan partisipasi angkatan kerja antara pria dan perempuan di tingkat global telah menyempit, namun dengan cara yang tidak terduga. Menurut data ILO, antara tahun 2000 dan 2024, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan global turun dari 50,6 persen menjadi 48,9 persen, sementara tingkat partisipasi pria juga menurun dari 77,9 persen menjadi 73 persen. Meskipun kedua angka tersebut menurun, penurunan partisipasi perempuan tidak sekuat penurunan partisipasi pria, menyebabkan kesenjangan gender menyempit sebesar 3,1 poin persentase.

Fenomena ini mencerminkan apa yang oleh para ekonom disebut sebagai added worker effect, di mana perempuan, terutama yang sudah menikah, meningkatkan partisipasi mereka dalam angkatan kerja untuk mengkompensasi hilangnya pendapatan keluarga akibat pasangan mereka yang menganggur atau keluar dari pasar kerja. Fenomena ini sangat terlihat selama krisis keuangan 2008 dan bahkan semakin menguat pasca-pandemi, di mana tekanan biaya hidup mendorong semakin banyak perempuan untuk memasuki atau kembali ke pasar kerja.

Beban Ganda dan Tantangan Baru

Namun, penyempitan kesenjangan partisipasi ini tidak serta-merta berarti terciptanya kesetaraan gender yang sejati. Perempuan masih menghadapi hambatan sistemik yang signifikan. Lebih dari 710 juta perempuan di seluruh dunia tidak dapat berpartisipasi dalam pasar tenaga kerja karena tanggung jawab pengasuhan keluarga, sementara jutaan lainnya menghadapi eksklusi dari layanan keuangan dan digital.

Fenomena motherhood penalty atau hukuman keibuan masih sangat kuat, di mana kehilangan partisipasi angkatan kerja bagi ibu tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan ayah. Di banyak negara maju sekalipun, karier perempuan seringkali terhambat oleh tanggung jawab tidak berbayar yang tidak proporsional dalam pengasuhan anak dan pekerjaan rumah tangga.

Di sisi lain, terdapat kekhawatiran yang berkembang tentang dampak jangka panjang dari penurunan partisipasi pria terhadap struktur keluarga dan sosial. Krisis identitas dan isolasi sosial di kalangan pria yang tidak bekerja dapat memicu berbagai masalah sosial, mulai dari meningkatnya tingkat depresi dan bunuh diri hingga ketegangan dalam hubungan rumah tangga. Fenomena ini juga dapat memperkuat stereotip gender baru yang justru merugikan kedua belah pihak.

Tantangan dan Peluang bagi Kebijakan Ekonomi Masa Depan

Penurunan partisipasi angkatan kerja pria bukanlah fenomena yang dapat diabaikan, karena membawa implikasi besar terhadap pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan sistem pensiun, dan kesejahteraan sosial secara keseluruhan.

Beban bagi Pertumbuhan Ekonomi

Ketika lebih sedikit pria yang bekerja, output ekonomi secara keseluruhan akan terpengaruh. Commonwealth Sense Institute memperkirakan bahwa jika tingkat partisipasi pria usia produktif utama di AS kembali ke level sebelum pandemi, akan ada tambahan 77.000 orang yang bekerja, menghasilkan hampir 10 miliar dolar AS tambahan dalam PDB dan lebih dari 4 miliar dolar AS dalam pendapatan pribadi.

Dalam skala global, penurunan partisipasi angkatan kerja pria, dikombinasikan dengan penuaan populasi di negara maju, telah secara signifikan memperlambat pertumbuhan populasi usia kerja. Sejak tahun 2008, pertumbuhan populasi usia kerja global (kelompok 15-64 tahun) telah melambat sekitar 92 persen, dan analisis IMF menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat turun sekitar satu poin di bawah rata-rata sebelum pandemi pada akhir dekade ini.

Mendorong Perubahan Kebijakan

Menghadapi realitas baru ini, diperlukan respons kebijakan yang inovatif dan multidimensi. IMF merekomendasikan investasi dalam pendidikan dan pelatihan ulang, reformasi sistem perpajakan, serta pengurangan insentif untuk pensiun dini. Kebijakan yang memperbaiki proses penempatan kerja dan membantu pekerja menggabungkan kehidupan keluarga dan pekerjaan juga sangat penting untuk mendorong orang-orang untuk bergabung dan tetap berada dalam angkatan kerja.

Namun, perubahan demografis yang dramatis pada akhirnya dapat mengalahkan kemampuan kebijakan untuk mengurangi efek penuaan terhadap partisipasi angkatan kerja, yang menggarisbawahi perlunya untuk memikirkan kembali kebijakan migrasi guna meningkatkan pasokan tenaga kerja di negara-negara maju.

Membangun Masa Depan yang Inklusif

Transformasi yang terjadi saat ini sebenarnya membuka peluang untuk membangun pasar kerja yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Negara-negara dengan tingkat NEET yang rendah, seperti Belanda, menunjukkan bahwa kebijakan yang mengubah pandangan terhadap sistem tunjangan dan berinvestasi dalam kesehatan mental pemuda serta pendidikan vokasi dapat secara signifikan mengurangi jumlah pemuda yang keluar dari pasar kerja.

Untuk jangka panjang, diperlukan strategi komprehensif yang tidak hanya fokus pada peningkatan partisipasi angkatan kerja pria tetapi juga mengatasi hambatan struktural yang menghalangi perempuan untuk berpartisipasi penuh dalam ekonomi. Ini berarti memikirkan ulang sistem pengasuhan anak, cuti orangtua bersama, fleksibilitas kerja, dan perlindungan sosial yang lebih adil bagi semua gender.

Penurunan partisipasi tenaga kerja pria global bukanlah akhir dari dunia, melainkan awal dari sebuah era ekonomi baru di mana peran gender dalam pasar kerja menjadi semakin cair dan kompleks. Tantangan bagi para pembuat kebijakan, pengusaha, dan masyarakat secara keseluruhan adalah bagaimana merespon perubahan fundamental ini dengan cara yang tidak hanya menstabilkan ekonomi tetapi juga menciptakan peluang yang lebih besar bagi semua orang, terlepas dari jenis kelamin mereka. Ini adalah momen untuk membangun kembali kontrak sosial ekonomi yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan untuk generasi mendatang.